Sistem Informasi Manajemen

BAB I

PENDAHULUAN

                     Pengertian Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

    1. Sistem
    2. Sistem adalah seperangkat unsur yang saling berhubungan dan saling memengaruhi dalam satu lingkungan tertentu (Ludwig, 1997).
    3. Sistem adalh sekumpulan elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan (A. Rapoport, 1997).
    4. Ryans (1968) System is any identifiable assemblage of element (object, person, activities, information records, etc) which are interrelated by process or structure and which are presumed to function as an organizational entity generating an observable (or sometimes merely inferable) product.
    5. Informasi

Saat ini kita sedang berada pada era informasi, hal ini berarti bahwa informasi sudah menyentuh seluruh segi kehidupan baik individual, kelompok, maupun organisasi. Di tingkat individu aneka ragam informasi dibutuhkan seperti kebutuhan akan pendidikan, kesejatan, lapangan pekerjaan, maupun jenis produk atau jasa lainnya. Adapun pengertian tentang pengertian informasi, yaitu data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi penerima dan memiliki nilai nyata yang dibutuhkan untuk proses pengambilan keputusan saat ini maupun saat mendatang (Gordon B. Davis, 1995). Sedangkan Informasi menurut Budi Sutedjo (2002: 168) merupakan hasil pemrosesan data yang di peroleh dari setiap elemen sistem tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan dalam pemahaman fakta-fakta yang ada.

  1. Manajemen

Secara umum dikatakan bahwa manajemen merupakan proses yng khaqs yang terdiri dari yindkan – tindakan perencanaan , pengorganisasian , penggerakan da  pengawasan untuk mencapai tujuan yan telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya (George R. Terry , 1997 ) Definisi lain menyatakan bahwa manajemen merupakan proses perencanaan , pengorganisasian , kepemimpinan, dan pengawasdan antar anggota organisasi  dengan menggunakan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai tujuaan yang telah ditetepakan ( Stoner AF , 1998 ) .

  1. Pendidikan

Dalam Good , Carter V (1959) dinatakan bahwa pndidikan adalah (1) proses seseorang mengembanagkan pengetahuan , sikap, dana tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat mereka hidup; (2) proses sosial yang erjadi pada orang yaqng dihadapkan pada pengaruh lin gkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang dating dari sekolah) sehingga mereka dapat memeperoleh perkembangan kemaqmpuan sosial dan kemampuan in divide yang optimal. Pendidikan dipengaruhi oleh l8ingkungan atas individu7 untuk mrenghasilkan perubahan – perubahan yang sifatnya permanen dalam tingkah laku , pikiran , dan sikapnya . Menurut Kamus Besar Bhasa Indonesia (1989) , pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan ( prosesw , prbuatan , dan cara mendidik ). Menururt Undang – Undang RINomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 ayat (1) : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertaq didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk  memiliki kekuatan spriritual keagamaan , pengendalian diri , kepribadian , kecerdaan , akhlak mulia , serta keterampilan yang diperlukan dirinya , masyarkat , bangsa, dan agama .

  1. Ciri – ciri pendidikan :
  2. Pendidikan mengandung tujuan , yaitu kemampuan untuk berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidup .
  3. Untuk mencapai tujuan tersebut , pendidikan melakukan usaha yang terencana dalam memilih isi ( materi) , strategi , dan teknik penilaian yang sesuai .
  4. Kegiatan pendidikan dilakukan dalam lingkungasn keluarga , sekolah , dan masyarakat (formal dan non formal )

Oleh karena itu, menurut Sihombing ( 2002: 10 ) pendidikan mengandung pokok – pokok penting sebagai berikut.

  1. Pendidikan adalah proses pembelajaran.
  2. Pendidikan adalah proses sosial.
  3. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
  4. Pendidikan berusaha mengubah atau mengembangkan kemampuan, sikap, dan perilaku positif.
  5. Pendidikan merupakan perbuatan atau kegiatan sadar.
  6. Pendidikan memiliki dampak pada lingkungan.
  7. Pendidikan berkaitan dengan cara mendidik.
  8. Pendidikan tidak berfokus pada pendidikan formal.

Secara total bahwa pendidikan merupakan suatu sistem yang memiliki kegiatan cukup kompleks, meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika menginginkan pendidikan terlaksana secara teratur, berbagai element ( komponen ) yang terlibat dalam kegiatan pendidikan perlu dikenali terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan pengkajian usaha pendidikan sebagai suatu sistem yang dapat dilihat secara mikro dan makro. Secara mikro pendidikan dapat dilihat dari hubungan elemen peserta didik, pendidik, dan interaksi keduanya dalam usaha pendidikan. Adapun secara makro menjakau elemen – elemen yang lebih luas. Berdasarkan tinjauan mikro peserta didik dan pendidik merupakan elemen sentral. Pendidikan untuk kepentingan peserta didik mempunyai tujuan dan untuk mencapai tujuan ini ada berbagai sumber dan kendala. Dengan memperhatikan berbagai sumber dan kendala, ditetapkan bahan pengajaran dan diusahakan berlangsungnya proses untuk mencapai tujuan. Proses ini menampilkan hasil belajar. Hasil belajar perlu dinilai dan dari hasil penilaian dapat merupakan umpan balik untuk mengkaji kembali berbagai elemen. Keseluruhan elemen ini tidak terlepas dari pengetahuan, teori, maupun model pendidikan yang telah dimiliki, disusun, dan diuji cobakan oleh para ahli. Dari berbagai elemen sistem pendidikan perlu dikenali secara mendalam sehingga dapat difungsikan dan dikembangkan. Dalam hal ini penting dikuasai pendekatan sistem untuk mengkaji masalah dan kelemahan yang ada dalam mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Dengan demikian, akan tampak peninjauan secara mikro maupun makro berdasarkan pendekatan sistem yang dapat menghasilkan keputusan dan upaya untuk memperbaiki sistem, sebagian atau keseluruhan, secara bertahap atau sekaligus. Keputusan ini dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal, produktif, dan efesien.

  1. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

Setelah membahas mengenai sistem informasi manajemen pendidikan secara parsial, kemudian akan dikemukakan beberapa sistem informasi  manajemen secara umum menurut beberapa ahli berikut : Gordon B. Davis, 1995 bahwa sistem informasi manajemen merup[akan sebuah sistem manusia dan mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan proses pengambilan keputusan dalam rangka memperbaiki perencanaan dan pengendalian. Dari definisi diatas, penulis akan mencoba membuat batasan mengenai sistem informasi manajemen pendidikan sebagai berikut. Dengan demikian sistem informasi pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung pengambilan keputusan bidang pendidikan. Pengertian lain sistem informasi pendidikan adalah susatu sistem yang dirancang untuk menyediakan inforasasi guna mendukung pengambilam keputusan pada kegiatan manajemen ( perencanaan, penggerakkan, pengorganisasian, dan pengendalian dalam lembaga pendidikan ). Untuk menerapkan sistem informasi manajemen pendidikan yang terpadu dan memiliki kapabilitas dalam mendukung keberhasilan dunia pendidikan yang signifikan, diperlukan keseimbangan sumber daya yang tersedia antara ketersediaan teknologi informasi seperti computer dan ketersediann dana untuk pengadaan perangkat computer yang sudah semakin canggih.

BAB II

ISI

 

  1. I.         Teknologi Informasi Unbtuk Keunggulan Bersaing Lembaga Pendidikan
    1. Lingkungan Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, keberadaan sistem informasi merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan itu sendiri. Kedua domain ini memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi dalam membentuk karakteristik dunia pendidikan tersebut manajemen dalam menggambarkan kedua aspek tersebut dimana pendidikan sebagai penggerak ( drive ) terhadap sistem informasi pendidikan, sedangkan sistem informasi pendidikan akan menjadi penentu kinerja pendidikan. Dalam hal ini terdapat perspektif yang melihat bahwa dunia pendidikan dan sistem informasi berada dalam lingkungan  mikro lembaga – lembaga pendidikan, juga merupakan bagian makro dunia pendidikan secara keseluruhan. Dalam sebuah lembaga pendidikan meiliki komponen – komponen yang diperlukan untuk menjalankan operasional pendidikan, seperti siswa atau mahasiswa, saran dan prasarana, struktur organisasi, proses, sumber daya manusia ( tenaga pendidik ), dan biaya organisasi. Adapun sistem informasi terdiri dari komponen – komponen pendukung lembaga pendidikan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan saat melakukan aktifitas pendidikan. Sistem informasi terbentuk dari komponen – komponen perangkat keras ( hardware ), perangkat lunak ( software ), dan perangkat manusia ( brainware ). Dalam teori manajemen untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan, strategi lembaga pendidikan dan strategi sistem informasi harus saling mendukung sehingga dapat menciptakan keunggulan bersaing ( competitive advantage ) lembaga pendidikan yang bersangkutan. Komponen pemerintah sebagai penyusun kebijakan dan peraturan bidang pendidikan, masyarakat, dan lain sebagainya. Dari sisi sistem informasi, factor ekternal yang ada adalah perkembangan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya.

  1. Menciptakan Keunggulan Bersaing Lembaga Pendidikan
  2. Program Baru ( New Program )

Tujuan diadakan kerjasama antar lembaga pendidikan adalah untuk menghasilkan jasa pendidikan yang tidak mungkin dihasilkan oleh lembaga pendidikan jika berdiri sendiri ( New Line Of Operation ) Contoh : Universitas Muhammadiyah Tangerang mengadakan kerjasama dengan Universitas yang ada di Australia denagn tujuan mahasiswa yang belajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang memiliki kesempatan dalam beberapa bulan atau semester untuk mengikuti perkuliahan diluar negeri. Mereka juga berhak mendapatkan ijazah ( gelar akademik ) dari Universitas diluar negeri.

  1. Pelayanan Baru ( New Service )

Disamping sarana pelayanan pendidikan yang bersifat fisik, pelayanan baru juga mungkin ditawarkan oleh lembaga pendidikan yang berkerja sama misalnya, lembaga pendidikan bekerjasama dengan perusahaan asuransi, perbankan, dan rumahsakit yang menawarkan jasa pendidikan kepada siswa dan mahasiswanya dengan dilengkapi fasilitas asuransi, kartu ATM , dan kartu kesehatan.

  1. Efesiensi

Alasan mengadakan kerjasama antara lembaga pendidikan, yaitu untuk efesiensi ( terlaksananya proses yang lebih murah dan cepat ).  Contoh dalam lembaga pendidikan membuat program bersama antara beberapa lembaga pendidikan, sebab jika program tersebut disediakan secara sendiri – sendiri oleh masing – masing lembaga pendidikan , biayanya menjadi lebih mahal. Jika disediakan secara bersama – sama biayanya akan lebih murah dan hasilnya akan lebih optimal. Sebagai contoh, sistem informasi manajemen bagi pelayan lembaga pendidikan kepada siswa dan mehasiswa dari mulai entry data awal mahasiswa sampai penyediaan kartu mahasiswa, kartu rencana study, bahkan fasilitas lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa yang bersangkutan .

  1. Hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat

Bentuk kerjasama lain terjadi antara lembaga pendidikan dan masyarakat, baik sebagai penyedia calon siswa atau mahasiswa untuk lembaga pendidikan ataupun sebagai pengguna jasa pendidikan tersebut. Saat ini yang sedang digalakkan, yaitu pendidikan yang berorientasi masyarakat untuk mendukung program manajemen berbabis sekolah atau MBS (School Base Management). Tanpa adanya kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat, untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang bermutu tidak akan tercapai. Oleh karena itu, kerjasama seperti ini harus terus dibina dan dikembangkan. Dalam menjalin kerjasama antara masyarakat dengan lembaga pendidikan harus dibentuk jaringan kerjasama (Networking) misalnya kerja sama dengan orang tua siswa atau mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, badan perwakilan desa/kelurahan, kantor pemerintahan, maupun lembaga bisnis. Kerjasama ini harus saling menguntungkan, artinya dari aktivitas yang dilaksanakan secara bersama-sama masing-masing pihak dapat menikmati kontribusinya setelah sebelumnya membuat kespeakatan bersama.

  1. Outsourcing (Menggunakan jasa lain untuk membantu melalukan aktivitas pendidikan)

Lembaga pendidikan dalam menjalankan aktivitasnya tidak terlepas dari berbagai keterbatasan, baik keterbatasan sumber daya manusia, modal, maupun sarana prasarana. Jika lembaga pendidikan tidak memiliki tenaga ahli untuk memperbaiki atau memelihara peralatan kantor, dapat digunakan perusahaan jasa dibidang pemeliharaan alat-alat kantor seperti computer.

  1. Membangun Citra Lembaga Pendidikan (Image Building)

Masih banyak alas an untuk memutuskan diadakannya kerjasama, baik dengan lembaga pendidikan yang sama maupun lembaga lain yang dapat menunjang kelancaran aktivitas lembaga pendidikan tersebut. Salah satunya adalah bagaimana meningkatkan citra lembaga pendidikan, terutama diera globalisasi. Besar sekali minta masyarakat untuk menjadi pengguna jasa sebuah lembaga pendidikan dikarenakan telah mengimplemntasikan teknologi informasi yang lebih baik. Memahami paradigm seperti ini, lembaga pendidkan yang ingin membangun citra lembaganya lebih baik harus membntuk jaringan kerjasama dengan pihak lain seperti bekerja sama dengan perusahaan e-commerce untuk membuka e-mail atau website. Akibat adanya jaringan kerjasama tersebut, citra lembaga pendidikan semakin baik dan berkembang sesuai tuntutan para pengguna jasa pendidikan dan sejalan dengan peningkatan kinerja lembaga pendidikan berdasarkan kompetensinya.

  1. Operasi Bersama ( Join Operation )

Operasional yang dilakukan sama-sama antar lembaga pendidikan baik antar lembaga pendidikan formal, maupun antara lembaga pendidikan formal dan non formal, yang pada dasarnya dibentuk untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para pengguna jasa. Sebagai contoh lembaga pendidikan bahasa asing bekerja sama dengan sebuha lembaga pendidikan tinggi untuk menjaring para mahasiswa maupun tenaga pengajarnya yang masih belum menguasai keterampilan berbahasa asing. Oleh karena itu, diadakan kursus bahasa oleh lembaga bahasa asing yang dilaksanakan diperguruan tinggi yang bersangkutan.

  1. Aliansi Strategis (Strategy Alliances)

Hal ini merupakan bentuk kerjasama antara beberapa lembaga pendidikan untuk tujuan yang bersifat umum dan jangka panjang. Misalnya aliansi antara lembaga-lembaga pendidikan swasta atau perguruan tinggi swasta untuk jurusan tenaga kependidikan baik sekolah tinggi keguruan maupun fakultas keguruan. Membuat kesepakatan tentang kurikulum untuk lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

  1. II.                Teknologi Informasi Sebagai Aset Utama Lembaga Pendidikan Dalam Jangka Panjang

 

  1. Sumber Daya Manusia

Yang dimaksud sumber daya manusia adalah para staff penanggung jawab perencanaan dan pengembangan teknologi informasi pada sebuha lembaga pendidikan. Dengan demikian, para staff tersebut benar-benar memiliki tanggung jawab terhadap pengoperasian teknologi informasi, memilki kompetensi untuk memecahkan masalah yang dihadapi lembaga pendidikan sehari-hari, dan selalu mencari kesempatan menggunakan teknlogi informasi untuk kemajuan lembaga pendidikan tersebut.

  1. Teknologi

Seluruh infrastruktur teknologi informasi, termasuk perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) dipergunakan secara bersama-sama dalam proses operasional lembaga pendidikan karena merupakan tulang punggung terciptanya system yang terintegrasi, dengan biaya yang relative terjangkau, untuk biaya operasional, pengembangan, maupun biaya pemeliharaan.

  1. Relasi

Yang dimaksud dalam hal ini adalah hubungan teknologi informasi dengan pihak manajemen lembaga pendidikan sebagai pengambil keputusan (decision maker). Menjalin suatu relasi ini berarti membagi resiko dan tanggung jawab. Dalam mewujudkan relasi ini didukung oleh pimpinan tertinggi dari lembaga pendidikan sehingga akan bertanggung jawab pada aplikasi teknlogi informasi yang berorientasi terhadap proses bukan berdasarkan fungsi organisasi.

BAB III

KESIMPULAN

 

Sistem informasi manajemen adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen (perencanaan, penggerakan, pengorganisasian, dan pengendalian) dalam organisasi. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung kembali proses pengambilan keputusan bidang pendidikan.  Data-data tersebut adalah data empiris atau data/fakta sebenarnya yang benar-benar ada dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dalam menghadapi globalisasi, sistem informasi semakin dibutuhkan oleh lembaga pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kelancaran aliran informasi dalam lembaga pendidikan, kontrol kualitas, dan menciptakan aliansi atau kerja sama dengan pihak lain yang dapat meningkatkan nilai lembaga pendidikan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  Fattah, Nanang,DR (2008), Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Universitas Pendidikan Indonesia, Tim Dosen Administrasi Pendidikan (2009), Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta. Rochaety, Eti Dkk (2009), Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s