How big your struggle to reach your dream???

all

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. Nidji – Laskar Pelangi

How big your struggle to reach your dream come true????
Do you know that you are best?

Do you know that you are extraordinary??

Do you know that you have a potention??
Do you know that i believe you that you will be success in the future??
Heey guys wake up, you can get whatever you want to be.
The patterns are : dream + believe + make it come true (struggle) + pray = success
Goo struggle ^^

BERJILBAB ITU ADALAH TANDA BUKTI KECINTAAN MUSLIMAH KEPADA ALLAH SWT.

BERJILBAB ITU ADALAH TANDA BUKTI KECINTAAN MUSLIMAH KEPADA ALLAH SWT.

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bismillahirraahmanirrahim. In the name of Allah the lord of lord, the world of world, and the master of everything.

 

Salam cinta penuh ukhuwah islamiyah pada seluruh saudara-saudariku dimanapun engkau berada khususnya bagi muslimah yang selalu dinantikan kehadirannya oleh Allah SWT.

Saudariku, pada kesempatan kali ini izinkanlah aku menulis sedikit tentang proses berjilbabku, aku menulis ini semata-mata karna Allah ta’ala yang insya Allah bisa menginspirasi wanita-wanita muslimah.

 

Berjilbab bukanlah suatu hal yang mudah untuk diaplikasikan, banyak sekali godaan-godaan yang merasuki aliran darah ditubuh ini. Aku mulai memutuskan berjilbab sewaktu lulus SMA, memang sebelumnya aku juga berjilbab tetapi masih bongkar pasang. Sebelum aku memutuskan untuk berjilbab, aku sangat mencintai rambutku yang panjang, lurus, hitam dan aku sangat bangga memperlihatkannya kepada teman-temanku, tetapi lambat laun aku menyadari bahwa ketaatan seorang muslimah adalah bagaimana ia menjaga mahkotanya tersebut diantara jutaan pria yang bukan muhrimnya. Awalnya aku berjilbab karena rasa malu kepada ibuku, betapa malu nya diri ini karena ibuku sendiri adalah seorang yang berjilbab sedangkan anaknya belum berjilbab. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai jilbab selamanya, awalnya memang sangat sulit beradaptasi dan bersahabat dengan jilbab itu. Rasa gerah, panas, dan hampir ingin melepasnya pun merasuki diri ini, tetapi aku bertekad bulat untuk menjaga jilbabku ini karena Allah SWT. Aku yakin bahwa Allah akan menolong orang-orang yang sedang berproses belajar menuju jalan yang lebih baik, jalan yang Allah idam-idamkan untuk muslimah-muslimahNya.

Awalnya cara berjilbab akupun masih mengikuti mode, aku gulung sana gulung sini, jepit sana jepit sini dan jadilah jilbab modern yang aku inginkan sampai sampai aku mendownload belasan hijab tutorial untuk menjadi referensiku untuk berjilab. Sampai suatu ketika aku sangat mengidolakan sosok wanita yang jika dipandang meneduhkan hati, memancarkan aura muslimah yang penuh kelembutan dan penuh ketakwaan kepada Allah SWT. Oki Setiana Dewi, yah dialah wanita kedua setelah ibuku yang menjadi sosok inspirasi berjilbabku saat ini. Awalnya aku tidak tahu sama sekali bagaimana cara memanjangkan jilbabku karena semua jilbabku tipis-tipis, akhirnya aku mulai mencari-cari informasi bagaimana cara memanjangkan jilbab dan menebalkannya. Yah akhirnya aku menemukan caranya yaitu jilbab dirangkap dua sehingga auranya tidak terlihat, memang terlihat rumit tetapi lambat laun aku sangat comfort dengan jilbabku saat ini dan juga aku mulai menata pakaianku yang masih belum syar’i. aku mulai beradaptasi dengan memakai rok, gamis, dan tentunya kaos kaki untuk menutupi auratku.

Sahabat, ternyata ujianku masih belum berakhir. Masih banyak gangguan-gangguan dari luar yang sepertinya menguji keimananku. “Itu pakai jilbab atau mukena panjang bangeet deh, hehehehe” begitulah kiranya salah seorang wanita berbincang dengan temannya. Astaghfirullah sabar, ini ujian untukku. As long as whatever people say, I don’t care about it yang terpenting adalah aku mencintai diriku yang sekarang, aku sangat nyaman dengan cara berpakaianku saat ini, tidak ada yang bisa mengubah penampilanku karena aku cinta Allah SWT, karena aku ingin dekat dengan Allah, karena aku ingin bertemu dengan Allah dan memantaskan diriku untuk bertemu denganNya.

Sahabat marilah kita kumandangkan jilbab syar’I diseluruh dunia, niatkan hati karena Allah, untuk Allah dan kepada Allah. Sahabat, aku mencintaimu seperti Allah mencintai umatNya, aku ingin hari-hari kita dihiasi ketaatan kita pada Allah, bantulah aku ketika aku khilaf dalam perbuatan maupun perkataan, bantulah aku mengumandangkan jilbab syar’I kepada seluruh wanita muslimah didunia ini, bantulah dan bimbinglah aku memperbaiki akhlak dan pribadiku.

“Berjilbab adalah menundukkan rasa malu kita dihadapan Allah, semuanya membutuhkan proses yang sangat panjang tetapi hanya satu yang membuat kita bertahan yaitu karena Allah, untuk Allah dan kepada Allah”

“Ya Allah yang Maha lembut, izinkanlah serta bimbinglah kami dengan cinta kasihMu untuk menuju ketaqwaan kami kepadaMu, Ya Allah berikanlah rasa malu terhadap diri kami, tegurlah kami ketika kekhilafan menyerang kami, ridhoi kami menuju jalan lurusMu, serta istiqomahkanlah segala perbuatan yang memperbaiki akhlak dan kepribadian kami, sungguh yang kami lakukan semata-mata hanyalah untuk mendapatkan ridhoMu.” Aamiin Ya Robbal’alamiin.

 

Begitulah kiranya sahabat cerita singkat proses berjilbabku, marilah kita rangkul wanita-wanita muslimah yang lain menuju jalan Allah, luruskan niat, dekati hatinya, rangkullah dirinya, semangati dirinya, dan doakanlah ia agar selalu mengistiqomahkan niatnya tersebut.

Salam ukhuwah islamiyah, aku cinta kalian karena Allah SWT.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Image

Metode Hisab Dan Ruqiyat Dalam Penentuan 1 Syawal

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Hisab & Ruqiyat

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Ruqiyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Penentuan 1 Syawal melalui metode Hisab

Sungguh  sangat memprihatinkan sekaligus memalukan rasanya jikalau penetapan 1 Syawal seringkali berbeda dari tahun ke tahun. Tercatat hari Lebaran tanggal 1 Syawal 1432 Hijriyahkemarin merupakan perbedaan yang keempat kalinya sejak enam tahun terakhir. Perbedaan sebelumnya pernah terjadi tiga kali berturut-turut, yakni pada tahun 2006, 2007, dan 2008.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di Indonesia 2 ormas Islam terbesar memegang peranan penting dalam penentuan 1 Syawal, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Namun masalahnya, kedua ormas tsb menggunakan metode yang berbeda dalam menetapkan 1 Syawal. Tradisi di NU selalu menggunakan rukyat, sedangkan metode hisab haqiqi wujudul hilal merupakan cara yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis hisab dan rukyat terlebih dahulu. Dalam hisab ada beberapa jenis aliran yang pada intinya terbagi atas tiga jenis, yakni hisab urfi, hisab taqribi, dan hisab haqiqi.

  1. Hisab Urfi. “Urfi” berarti kebiasaan atau kelaziman (Farid Ruskanda, 1995:17). Hisab Urfi adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Hisab urfi ini telah dipergunakan sejak zaman khalifah kedua, Umar bin Khattab r.a (tahun 17 H). Pada system hisab ini, perhitungan bulan qomariah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga umur bulan dalam setahun qomariah barvariatif diantara 29 dan 30 hari.

Pada system hisab urfi ini, bulan yang bernomor ganjil dimulai dari bulan Muharram berjumlah 30 hari, sedangkan bulan yang bernomor genap dimulai dari bulan Shafar berjumlah 29 hari. Tetapi khusus bulan Dzulhijjah (bulan ke-12) pada tahun kabisat berjumlah 30 hari. Dalam hisab urfi juga mempunyai siklus 30 tahun (1 daur) yang di dalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari pertahunnya dan 19 tahun yang disebut tahun basithah (pendek) memilik 354 hari pertahunnya. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan ke-29 dari keseluruhan selama 1 daur (30 tahun). Dengan demikian, kalau dirata-rata periode umur bulan (bulan sinodis/lunasi) menurut hisab urfi adalah (11 X 355 hari) + (19 X 354 hari) : (12 X 30 tahun) = 29 hari 12 jam 44 menit  (menurut hitungan astronomis: 29 hari 12 jam 44 menit 2,88 detik ).Walau terlihat sudah cukup teliti, namun yang menjadi masalah adalah aturan 29 dan 30 hari serta aturan kabisat yang tidak menunjukan posisi bulan yang sebenarnya dan sifatnya hanya pendekatan saja. Oleh sebab itulah, maka system hisab urfi ini tidak dapat dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.

  1.  Hisab Taqribi. Dalam bahasa arab, “Taqrobu” berarti pendekatan atau aprokmasi. Hisab taqribi adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis, namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. System hisab ini merupakan warisan dari para Ilmuan Falaq Islam masa lalu dan hingga sekarang system hisab ini menjadi acuan pembelajaran hisab di berbagai pesantren di Indonesia.

Hasil hisab Taqribi akan mudah dikenali pada saat penentuan ijtima dan tinggi hilal menjelang tanggal satu bulan qomariah, yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar apabila dibandingkan dengan perhitungan astronomis modern.

Beberapa kitab ilmu falaq yang berkembang di Indonesia yang termasuk kategori hisab taqribi ini adalah Sullam An-Nayiroin, Ittifadzatilal-Banin, Fathul Ar-rufdiul mannan, Al-qiwaid Al-falaqiyah dan lain sebagainya.

  1.  Hisab Haqiqi, yaitu perhitungan posisi benda-benda langit  serta memperhatikan hal-hal yang terkait di dalamnya. Hisab haqiqi sering juga disebut Hisab yang sebenarnya, yaitu hisab yang ditentukan berdasarkan waktu peredaran bulan mengelilingi bumi yang sebenarnya. Tidak seperti hisab urfi, umur bulan dengan hisab ini tidak dapat dipatokkan, bahkan bisa terjadi umur/jumlah hari pada suatu bulan ganjil dan bulan genap adalah 29 atau 30 hari secara berurutan. System hisab haqiqi ini sudah mulai menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis serta rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang amat akurat.

Pada zaman ini, hisab haqiqi-lah hisab yang banyak diterima dan dipakai oleh kaum Muslimin, tidak hanya untuk menghisab Hilal tetapi juga menghisab hal-hal lainnya seperti menghisab jadwal shalat 5 waktu. Hisab Haqiqi dapat dibagi menjadi 2 macam yakni hisab wujudul hilal dan hisab imkanurr rukyah.

a)       Hisab Wujudul HilalWujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum. Hisab Wujudul Hilal ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai Rukyat Bil Ilmi, yaitu meru’yat dengan menggunakan ilmu sebagai alat untuk melihat hilal. Tidak peduli apakah langit sedang mendung atau badai sekalipun, selama perhitungan di atas kertas mengatakan sudah terjadi hilal (bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam), pergantian bulan dianggap telah terjadi.

b)       Hisab Imkanur Rukyat. Awal bulan qamariah, menurut sistem hisab imkanurr-rukyat, dimulai pada saat terbenam Matahari setelah terjadi ijtima’ dan pada saat itu hilal sudah memenuhi syarat untuk memungkinkan dapat dilihat. Dengan demikian, untuk menetapkan masuknya awal bulan qamariah menurut aliran ini terlebih dahulu ditetapkan suatu kaidah mengenai posisi hilal (Bulan) di atas ufuk yang memungkinkan untuk dapat dilihat. Awal bulan baru itu ditetapkan berdasarkan posisi hilal dengan segala persyaratan yang telah ditetapkan, sehingga pada saat atau beberapa saat setelah terbenam Matahari sesudah ijtima’ orang mungkin dapat melihat hilal tersebut.

Sebenarnya selain dari jenis-jenis hisab seperti yang disebutkan diatas, ada juga apa yang disebut sebagai “perhitungan melalui purnama”. Metode hisab ini berpatokan pada posisi sempurna bulan purnama. Setelah wujud purnama mencapai tingkat 100% , maka kemudian dihitung mundur sebanyak 15 hari kebelakang untuk menentukan hilal. Yang menjadi masalah disini adalah mengapa harus dihitung 15 hari ke belakang, padahal umur bulan purnama tidak mutlak 15 hari? Hal ini bisa diibaratkan seperti seorang ibu yang melahirkan anak dalam keadaan langsung beranjak dewasa, sehingga untuk menentukan umur anak tsb dalam keadaan masih bayi kita akan mengalami kesulitan! Apakah untuk menentukan umur anak itu kita akan mematok dengan menghitung mundur misal sebanyak 15 tahun kebelakang? Jelas tidak bukan?

Maka dari itu, pakar astronomi LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa awal bulan mestinya didasarkan pada fenomena yang ada batas awalnya. Hilal ada batas awalnya, karena hari sebelumnya tidak tampak, kemudian tampak sebagai tanda awal bulan. Tampak bisa dalam arti fisik, terlihat, atau tampak berdasarkan kriteria visibilitasnya. Purnama sulit menentukan batas awalnya. Dari segi ketampakan, bulan tanggal 14 dan 15 hampir sama bentuknya, sama-sama bulat. Secara teoritik, rata-rata purnama terjadi pada 14,76 hari setelah ijtimak (bulan baru). Artinya, purnama bisa terlihat pada malam ke-14 atau ke-15, sehingga tidak memberikan kepastian ketika ditelusur mundur.

Hal senada diungkapkan peneliti pada Obsevatorium Bosscha, Moedji Raharto. Ia menegaskan, purnama tak menunjukkan apa pun kecuali posisi bulan tersebut. Pada saat itu, bujur ekliptika bulan dan matahari sudah mencapai 180 derajat. Kondisi itu pun tak bisa dijadikan landasan menentukan awal bulan Hijriah. Pasalnya, dalam perumusan kalender Hijriah, posisi hilal bisa lebih tua dari waktu konjungsi. “Bisa 20 hingga 26 jam bahkan ada yang mencapai 48 jam,” kata Moedji.

Artinya, bulan purnama bisa jatuh pada waktu yang berbeda-beda. Purnama mungkin berlangsung pada 13, 14, atau 15 di bulan Qomariyah. Karena itu, Moedji mengajak semua pihak bersikap arif dan mengembalikan definisi hilal pada teknis serta mekanisme yang berlaku dalam astronomi. Langkah ini diyakini bisa menghindari sikap saling klaim dan saling menyalahkan satu sama lain. “Kita kembali ke definisi hilal,” katanya.

Sedangkan rukyat pada umumnya dikenal hanya 2 macam, yaitu:

(1) Bil Qalbi. Pergantian bulan terjadi hanya dengan meyakini dalam hati bahwa saat itu sudah terjadi hilal. Tidak perlu menengok ke langit atau menghitung di atas kertas, yang penting percaya. Sebagian menyebut ru’yat ini sebagai melihat dengan mata batin.

(2) Bil Fi’li. Kelompok terakhir menafsirkan hadits secara harfiah, bahwa hilal harus dilihat dengan mata secara langsung. Ini pun masih menimbulkan tanda tanya, apakah harus dengan mata telanjang? Sebagian berpendapat bahwa hilal harus dilihat dengan mata langsung dan tidak boleh menggunakan alat yang memantulkan cahaya. Sedangkan sebagian yang lain memperbolehkan.

 

2.2 . Penentuan 1 Syawal melalui metode Ruqiyat

Ruqiyat berasal dari bahasa Arab  ra’a – yara – rukyatyang artinya “melihat”. Hilal juga berasaldari bahasa Arab “al-hilal – ahillah” yaitu bulan sabit (crescent) yang pertama terlihat setelahterjadinya “ijtimak”. Ijtimak adalah bulan baru (new moon), disebut juga bulan mati. Ijtimakterjadi saat posisi bulan dan matahari berada pada jarak paling dekat. Secara astronomis, saatijtimak terjadi maka bujur ekliptik bulan sama dengan bujur ekliptik matahari dengan arahpenglihatan dari pusat bumi (geosentris). Pada waktu tertentu peristiwa ijtimak juga ditandai dengan terjadinya gerhana matahari yaitu saat lintang ekliptik bulan berimpit atau mendekati lintang ekliptik matahari. Periode dari peristiwa ijtimak ke ijtimak berikutnya disebut ” bulan sinodis” yang lamanya 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik

A.  Beberapa Kriteria Penentuan 1 Syawal

Banyak kriteria dalam melakukan penentuan bulan sabit atau rukyatul hilal. Wikipedia menunjukkan ada empat kriteria, yaitu rukyatul hilal (langsung), wujudul hilal, imkanur rukyat, dan rukyat global.

1. Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan berjalan (kalender) digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Kriteria ini digunakan antara lain oleh organisasi NU. Sayangnya, ketentuan usia hilal, tinggi Bulan, dan sudut elongasi minimum agar bulan dapat dilihat dengan mata ini masih ada beda pendapat. Salah satu pendapat datang dari anggota Badan Hisab dan Rukyat Indonesia, T. Djamaluddin . Pertama, umur hilal minimum 8 jam sejak

ijtimak. Kedua, tinggi bulan minimum tergantung beda azimut Bulan-Matahari. Bila bulan berada

lebih dari 6 derajat, tinggi minimumnya 2,3 derajat. Tetapi bila Bulan tepat berada di atas Matahari,

tinggi minimumnya 8,3 derajat.  Tanggal 1 menurut kriteria Rukyatul Hilal

2. Wujudul Hilal

adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam ( ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset ). Jika dua prinsip itu dipenuhi, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian ( altitude ) Bulan saat Matahari terbenam. Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh organisasi Muhammadiyah.  Tanggal 1 menurut kriteria Wujudul Hilal.

3. Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan  Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada 2 / 6 Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip: awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika pada saat matahari terbenam, ketinggian ( altitude ) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau pada saat Bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam dihitung sejak ijtimak. Prinsip ini diikuti antara lain oleh organisasi Persis Persatuan Islam). Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda. Tanggal 1

4. Rukyat Global

adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya

Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24 jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

Jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya.

 

2.3 Metode  Muhmmadiyah  dalam menentukan 1 syawal

Muhammadiyah menerapkan penentuan awal bulan menggunakan metode hisab, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan proses rukyat. Hal ini beralasan bahwa berdasarkan perkembangan iptek dan pola kehidupan masyarakat maka pelaksanaan rukyat dilakukan dengan menggunakan hisab. Dengan metode hisab dari Muhammadiyah ini maka dianggap sudah memasuki bulan baru manakala sudah dapat dilihat wujudul hilal atau nampaknya bulan baru setelah terbenamnya matahari.

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

1. Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

2. Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

3. Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

4. Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

5. Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

6. Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam hisab ada beberapa jenis aliran yang pada intinya terbagi atas tiga jenis, yakni hisab urfi, hisab taqribi, dan hisab haqiqi. Banyak kriteria dalam melakukan penentuan bulan sabit atau rukyatul hilal. Wikipedi menunjukkan ada empat kriteria, yaitu rukyatul hilal (langsung), wujudul hilal, imkanur rukyat, dan rukyat global.

Muhammadiyah sendiri menentukan jatuhnya 1 syawal menggunakan metodehisab yang di yakini lebih meyakinkan dan karena banyak hal yang menunjukan metode ruqiyah kurang akurat dalam menentukan 1 syawal

Tugas Perkembangan

BAB I

PENDAHULUAN

 

Tugas-tugas perkembangan menurut para ahli

 

Menurut Havighurst (1961), tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan

individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya

mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang

tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.

Hurlock (1981) menyebut tugas – tugas perkembangan ini sebagai social expectations

yang artinya setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan

tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia sepanjang

rentang kehidupan.

Faktor sumber munculnya tugas – tugas perkembangan menurut Havighurst :

1. Adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu

2. Tuntutan masyarakat secara kultural : membaca, menulis, berhitung, dan organisasi

3. Tuntutan dari dorongan dan cita – cita individu sendiri (psikologis) yang sedang

berkembang itu sendiri : memilih teman dan pekerjaan

4. Tuntutan norma agama

Dari pendapat-pendapat di atas, bisa di simpulkan bahwa tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang dilakukan oleh setiap individu atau kelompok yang yang dilaksanakan dan bertujuan untuk memenuhi seluruh pencapaian yang diinginkan agar berkembang lebih baik, baik itu dari segi keterampilan, intelegensi, spiritual, emosi, minat atau potensi. Tugas-tugas inilah yang akan berpengaruh pada perkembangan suatu individu atau kelompok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

Tugas-tugas Perkembangan Menurut Sepanjang Rentang Kehidupan Menurut Havgihurst

Masa Bayi dan Awal Masa Kanak-kanak

  • Belajar memakan makanan padat.
  • Belajar berjalan.
  • Belajar berbicara.
  • Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
  • Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
  • Mempersiapkan diri untuk membaca
  • Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani.

Kesimpulan yang bisa di ambil pada masa ini adalah belajar mengembangkan motorik setiap anak. Penting sekali untuk mengembangkan motorik anak, karena mereka mulai menggunakan bagian-bagian tubuh untuk beraktivitas dan bermain. Misalnya belajar memakan makanan padat, itu akan membantu menguatkan daya gigit pada gigi seorang anak. Intinya semua yang dilakukan anak pada masa ini akan membantu untuk mengembangkan motorik seorang anak. Keterampilan, penguasaan dan  penggunaaan alat-alat tubuh sangat baik untuk merangsang otot-otot bayi.  Tugas orang tua disini adalah membimbing dan mengarahkan bagaimana fungsi-fungsi anggota badan itu digunakan dengan tepat dan bijaksana juga mengembangkan keterampilan-keterampilan pada alat-alat tubuh.

Akhir Masa Kanak-kanak

  • Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum
  • Membangun sikap yang sehat mengenal diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh
  • Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
  • Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat
  • Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung
  • Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
  • Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai
  • Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga
  • Mencapai kebebasan pribadi

Mendidik moral, spiritual, nilai sosial dan hati nurani sangat baik dikembangkan pada masa ini, karena mereka masih bisa diberikan respon yang baik dari stimulus yang diberikan oleh orang tua maupun guru. Untuk itu peran lingkunganpun sangat berpengaruh pada diri individu pada masa ini, dan orang tua maupun guru harus dapat menyaring hal-hal yang sekiranya baik atau tidak untuk perkembangan diri peserta didik.

Misalnya : Seorang anak mempunyai bakat yang sudah mulai terlihat di bidang seni melukis, orang tua dan guru dapat membantu untuk mengembangkannya dengan cara memberikan alat-alat melukis kemudian biarkan dia mengeksplor imajinasinya dan menuangkannya kedalam lembaran-lembaran kanvas.

 

Masa Remaja

  • Mempelajari hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
  • Mencapai peran sosial pria, dan wanita
  • Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
  • Mengharapkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab
  • Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
  • Mempersiapkan karier ekonomi
  • Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
  • Memperoleh perangkat nilai dan system etis sebagai pegangan untuk berperilaku menembangkan ideologi.

Peran guru dan orang tua disini adalah membangun rasa kepercayaan diri pada seorang individu agar ia lebih mudah mencapai hasil yang diinginkan. Seperti dalam realita saat ini, masa remaja adalah masa meniru. Remaja sangat mudah meniru orang-orang yang membuat mereka terinspirasi dan mencobanya. Pada saat inilah orang tua dan guru mengarahkan mereka agar meniru yang baik dan pantas untuk di tiru. Berikan perhatian ekstra pada masa ini, karena bimbingan dan didikan sangat vital bagi individu. Mereka akan merasa nyaman dan merasa di hargai keberadaanya jika orang tua dan guru membimbingnya dengan penuh kelembutan tetapi tegas dan disiplin.

Contohnya : Seorang siswa yang yang mempunyai keterbatasan fisik yaitu tuna netra bisa menggunakan tangannya sebagai alat bantu untuk membaca dengan memanfaatkan alat peraba atau tangannya. Disinilah seorang guru dan orang tua dituntut untuk memberikan rasa percaya diri kepada siswa tersebut untuk lebih bersikap bertanggung jawab tetapi tetap dibawah bimbingan orang tua dan guru.

Awal Masa Dewasa

  • Mulai bekerja
  • Memilih pasangan
  • Belajar hidup dengan tunangan
  • Mulai membina keluarga
  • Mengasuh anak
  • Mengelola rumah tangga
  • Mengambil tanggung jawab sebagai warga Negara
  • Mencari kelompok social yang menyenangkan

Kesimpulan untuk masa ini adalah pola pikir individu sudah mulai matang. Tingkat kedewasaannya pun lambat laun semakin bertambah. Mereka mulai bebas memilih apapun yang mereka inginkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Tanggung jawabnya pun sudah mulai meluas dalam arti mereka mulai mempertanggung jawabkan sekecil-kecilnya hal. Masa depan sudah dirancang dengan matang dan mempersiapkan nya dengan hat-hati. Pergaulan-pergaulan mulai mereka pilih yang mana yang baik dan yang mana yang tidak, yang mana yang harus diikuti dan yang mana yang tidak boleh diikuti.  Pada masa ini orang tua hanyalah pembimbing dan pemberi nasihat kepada individu, selanjutnya semua keputusan berada di tangan individu itu sendiri.

 

 

Masa Usia Pertengahan

  • Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga Negara
  • Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung hawab, dan bahagia
  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa
  • Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
  • Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada tahap ini
  • Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan
  • Menyesuaikan ndiri dengan orang tua yang semakin tua

Masa Tua

  • Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
  • Menyesuaikan diri dengan masa pension dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga
  • Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
  • Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
  • Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
  • Menyesuiakan diri dengan peran sosial secara luwes.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengasaan Tugas-tugas perkembangan :

Yang Menghalangi :

  • Tingkat perkembangan yang mundur
  • Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembanag atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya
  • Tidak ada motivasi
  • Kesehatan yangburuk
  • Cacat tubuh
  • Tingkat kecerdasan yang rendah

 

Yang Membantu :

  • Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan
  • Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya
  • Motivasi
  • Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh
  • Tingkat kecerdasan yang tinggi
  • Kreativitas

 

Tahapan Dalam Rentang Kehidupan

  • Periode prenatal : konsepsi kelahiran
  • Bayi : kelahiran sampai akhir minggu kedua
  • Masa Bayi : akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua
  • Awal masa kanak-kanak : 2-6 tahun
  • Akhir masa kanak-kanak : 6-10 tahuin atau 12 tahun
  • Masa puber atau pramasa remaja : 10 atau 12 – 13 atau 14 tahun
  • Masa remaja : 13 atau 14 tahun – 18 tahun
  • Awal masa dewasa : 18 – 40 tahun
  • Masa tua atau usia lanjut : 60 sampai meninggal dunia.

 

 

 

APLIKASI TUGAS PERKEMBANGAN DALAM PENDIDIKAN

Memperhatikan banyaknya faktor kehidupan yang berada di lingkungan, maka pemikiran tentang penyelenggaraan pendidikan juga harus memperhatikan faktor-faktor tersebut. Sekalipun dalam penyelenggaraan pendidikan diakui bahwa tidak mungkin memenuhi tuntutan dan harapan seluruh faktor yang berlaku tersebut.

a)      Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang di-selenggarakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal. Penyelenggaraan pendidikan klasikal ini berarti memberlakukan sama semua tindakan pendidikan kepada semua peserta didik yang tergabung di dalam kelas, sekalipun masing-masing di antara mereka sangat berbeda-beda. Pengakuan terhadap kemampuan setiap pribadi yang beranekaragam itu menjadi kurang. Oleh karena itu, yang harus mendapatkan perhatian di dalam penyelenggaraan pendidikan adalah sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan kepercayaan, kebebasan, dan semacamnya.

b)       Beberapa usaha yang perlu dilakukan di dalam penyelenggaraan pendidikan, sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain adalah:

  1. Bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
  2.  Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungan.
  3. Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengem¬bangkan kurikulum muatan lokal.

c)      Keberhasilan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal maka perlu dilakukan:

  1. Bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga.
  2. Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan untuk kebebasan emosional dari orang tua.

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Tugas perkembangan merupakan tugas-tugas yang berkelanjutan bagi setiap individu. Tugas ini sikerjakan dan dilaksanakan dengan tujuan agar perkembangan individu dapat berjalan sesuai denagn masanya. Tugas-tugas ini memberikan keluwesan bagi individu untuk berkembang sesuai yang diinginkan.

Orang tua dan guru disekolah sebagai pembimbing peserta didik untuk mencapai kemandirian, mengembangkan potensi, minat dan bakat seorang peserta didik. Orang tua dan pendidik harus mampu memberikan dan dorongan dan stimulus kepada peserta didik agar mereka mampu mengembangkan sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan zaman. Berkspresi, berkreasi, bebas memilih, bebas berpendapat, bebas mengeksplor keterampilan-keterampilan, bebas mengungkapkan perasaan, berrtanggung jawab pada setiap hal, mamupu berperan aktif di keluarga, sekolah, maupun dilingkungan adalah hak-hak yang penting bagi seorang peserta didik. Pendidik dan orang tua hanya mengarahkan dan membimbing mereka agar lebih terarah. Mengembangkan spiritual adalah tugas yang wajib untuk peserta didik, karena spiritual adalah faktor penentu keberhasilan selain intelegensi. Orang tua dan pendidik memberikan arahan bagaimana seharusnya mereka mengenal dan mengatur emosi, bagaimana mereka bersikap jujur dan bertanggung jawab pada tugas-tugas yang diberikan, bagaimana seorang peserta didik diajak mengenal Allah, mensyukuri nikmat-nikmat Allah, serta memahami setiap masalah dengan sikap yang tenang. Agar ini mencapai hasil yang baik perlu adanya contoh teladan dari orang tua dan pendidik, karena bagaimanapun mereka adalah contoh teladan bagi anak-anaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock B Elizabeth. Psikologi perkembangan Jilid 1 edisi ke 6. Jakarta. Erlangga

Munnir Abdullah. 2009. Spiritual Teaching. Yogyakarta. Pustaka Insan Madani

http://ilmu-psikologi.blogspot.com/2009/05tugas-perkembangn.html

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR.-PEND.-LUAR-SEKOLAH/194412051967101

KOKO_DARKUSONO_A/TUGAS-TUGAS_PERKEMBANGAN.pdf

 

Sistem Informasi Manajemen

BAB I

PENDAHULUAN

                     Pengertian Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

    1. Sistem
    2. Sistem adalah seperangkat unsur yang saling berhubungan dan saling memengaruhi dalam satu lingkungan tertentu (Ludwig, 1997).
    3. Sistem adalh sekumpulan elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan (A. Rapoport, 1997).
    4. Ryans (1968) System is any identifiable assemblage of element (object, person, activities, information records, etc) which are interrelated by process or structure and which are presumed to function as an organizational entity generating an observable (or sometimes merely inferable) product.
    5. Informasi

Saat ini kita sedang berada pada era informasi, hal ini berarti bahwa informasi sudah menyentuh seluruh segi kehidupan baik individual, kelompok, maupun organisasi. Di tingkat individu aneka ragam informasi dibutuhkan seperti kebutuhan akan pendidikan, kesejatan, lapangan pekerjaan, maupun jenis produk atau jasa lainnya. Adapun pengertian tentang pengertian informasi, yaitu data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi penerima dan memiliki nilai nyata yang dibutuhkan untuk proses pengambilan keputusan saat ini maupun saat mendatang (Gordon B. Davis, 1995). Sedangkan Informasi menurut Budi Sutedjo (2002: 168) merupakan hasil pemrosesan data yang di peroleh dari setiap elemen sistem tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan dalam pemahaman fakta-fakta yang ada.

  1. Manajemen

Secara umum dikatakan bahwa manajemen merupakan proses yng khaqs yang terdiri dari yindkan – tindakan perencanaan , pengorganisasian , penggerakan da  pengawasan untuk mencapai tujuan yan telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya (George R. Terry , 1997 ) Definisi lain menyatakan bahwa manajemen merupakan proses perencanaan , pengorganisasian , kepemimpinan, dan pengawasdan antar anggota organisasi  dengan menggunakan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai tujuaan yang telah ditetepakan ( Stoner AF , 1998 ) .

  1. Pendidikan

Dalam Good , Carter V (1959) dinatakan bahwa pndidikan adalah (1) proses seseorang mengembanagkan pengetahuan , sikap, dana tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat mereka hidup; (2) proses sosial yang erjadi pada orang yaqng dihadapkan pada pengaruh lin gkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang dating dari sekolah) sehingga mereka dapat memeperoleh perkembangan kemaqmpuan sosial dan kemampuan in divide yang optimal. Pendidikan dipengaruhi oleh l8ingkungan atas individu7 untuk mrenghasilkan perubahan – perubahan yang sifatnya permanen dalam tingkah laku , pikiran , dan sikapnya . Menurut Kamus Besar Bhasa Indonesia (1989) , pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan ( prosesw , prbuatan , dan cara mendidik ). Menururt Undang – Undang RINomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 ayat (1) : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertaq didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk  memiliki kekuatan spriritual keagamaan , pengendalian diri , kepribadian , kecerdaan , akhlak mulia , serta keterampilan yang diperlukan dirinya , masyarkat , bangsa, dan agama .

  1. Ciri – ciri pendidikan :
  2. Pendidikan mengandung tujuan , yaitu kemampuan untuk berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidup .
  3. Untuk mencapai tujuan tersebut , pendidikan melakukan usaha yang terencana dalam memilih isi ( materi) , strategi , dan teknik penilaian yang sesuai .
  4. Kegiatan pendidikan dilakukan dalam lingkungasn keluarga , sekolah , dan masyarakat (formal dan non formal )

Oleh karena itu, menurut Sihombing ( 2002: 10 ) pendidikan mengandung pokok – pokok penting sebagai berikut.

  1. Pendidikan adalah proses pembelajaran.
  2. Pendidikan adalah proses sosial.
  3. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
  4. Pendidikan berusaha mengubah atau mengembangkan kemampuan, sikap, dan perilaku positif.
  5. Pendidikan merupakan perbuatan atau kegiatan sadar.
  6. Pendidikan memiliki dampak pada lingkungan.
  7. Pendidikan berkaitan dengan cara mendidik.
  8. Pendidikan tidak berfokus pada pendidikan formal.

Secara total bahwa pendidikan merupakan suatu sistem yang memiliki kegiatan cukup kompleks, meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika menginginkan pendidikan terlaksana secara teratur, berbagai element ( komponen ) yang terlibat dalam kegiatan pendidikan perlu dikenali terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan pengkajian usaha pendidikan sebagai suatu sistem yang dapat dilihat secara mikro dan makro. Secara mikro pendidikan dapat dilihat dari hubungan elemen peserta didik, pendidik, dan interaksi keduanya dalam usaha pendidikan. Adapun secara makro menjakau elemen – elemen yang lebih luas. Berdasarkan tinjauan mikro peserta didik dan pendidik merupakan elemen sentral. Pendidikan untuk kepentingan peserta didik mempunyai tujuan dan untuk mencapai tujuan ini ada berbagai sumber dan kendala. Dengan memperhatikan berbagai sumber dan kendala, ditetapkan bahan pengajaran dan diusahakan berlangsungnya proses untuk mencapai tujuan. Proses ini menampilkan hasil belajar. Hasil belajar perlu dinilai dan dari hasil penilaian dapat merupakan umpan balik untuk mengkaji kembali berbagai elemen. Keseluruhan elemen ini tidak terlepas dari pengetahuan, teori, maupun model pendidikan yang telah dimiliki, disusun, dan diuji cobakan oleh para ahli. Dari berbagai elemen sistem pendidikan perlu dikenali secara mendalam sehingga dapat difungsikan dan dikembangkan. Dalam hal ini penting dikuasai pendekatan sistem untuk mengkaji masalah dan kelemahan yang ada dalam mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Dengan demikian, akan tampak peninjauan secara mikro maupun makro berdasarkan pendekatan sistem yang dapat menghasilkan keputusan dan upaya untuk memperbaiki sistem, sebagian atau keseluruhan, secara bertahap atau sekaligus. Keputusan ini dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal, produktif, dan efesien.

  1. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

Setelah membahas mengenai sistem informasi manajemen pendidikan secara parsial, kemudian akan dikemukakan beberapa sistem informasi  manajemen secara umum menurut beberapa ahli berikut : Gordon B. Davis, 1995 bahwa sistem informasi manajemen merup[akan sebuah sistem manusia dan mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan proses pengambilan keputusan dalam rangka memperbaiki perencanaan dan pengendalian. Dari definisi diatas, penulis akan mencoba membuat batasan mengenai sistem informasi manajemen pendidikan sebagai berikut. Dengan demikian sistem informasi pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung pengambilan keputusan bidang pendidikan. Pengertian lain sistem informasi pendidikan adalah susatu sistem yang dirancang untuk menyediakan inforasasi guna mendukung pengambilam keputusan pada kegiatan manajemen ( perencanaan, penggerakkan, pengorganisasian, dan pengendalian dalam lembaga pendidikan ). Untuk menerapkan sistem informasi manajemen pendidikan yang terpadu dan memiliki kapabilitas dalam mendukung keberhasilan dunia pendidikan yang signifikan, diperlukan keseimbangan sumber daya yang tersedia antara ketersediaan teknologi informasi seperti computer dan ketersediann dana untuk pengadaan perangkat computer yang sudah semakin canggih.

BAB II

ISI

 

  1. I.         Teknologi Informasi Unbtuk Keunggulan Bersaing Lembaga Pendidikan
    1. Lingkungan Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, keberadaan sistem informasi merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan itu sendiri. Kedua domain ini memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi dalam membentuk karakteristik dunia pendidikan tersebut manajemen dalam menggambarkan kedua aspek tersebut dimana pendidikan sebagai penggerak ( drive ) terhadap sistem informasi pendidikan, sedangkan sistem informasi pendidikan akan menjadi penentu kinerja pendidikan. Dalam hal ini terdapat perspektif yang melihat bahwa dunia pendidikan dan sistem informasi berada dalam lingkungan  mikro lembaga – lembaga pendidikan, juga merupakan bagian makro dunia pendidikan secara keseluruhan. Dalam sebuah lembaga pendidikan meiliki komponen – komponen yang diperlukan untuk menjalankan operasional pendidikan, seperti siswa atau mahasiswa, saran dan prasarana, struktur organisasi, proses, sumber daya manusia ( tenaga pendidik ), dan biaya organisasi. Adapun sistem informasi terdiri dari komponen – komponen pendukung lembaga pendidikan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan saat melakukan aktifitas pendidikan. Sistem informasi terbentuk dari komponen – komponen perangkat keras ( hardware ), perangkat lunak ( software ), dan perangkat manusia ( brainware ). Dalam teori manajemen untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan, strategi lembaga pendidikan dan strategi sistem informasi harus saling mendukung sehingga dapat menciptakan keunggulan bersaing ( competitive advantage ) lembaga pendidikan yang bersangkutan. Komponen pemerintah sebagai penyusun kebijakan dan peraturan bidang pendidikan, masyarakat, dan lain sebagainya. Dari sisi sistem informasi, factor ekternal yang ada adalah perkembangan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya.

  1. Menciptakan Keunggulan Bersaing Lembaga Pendidikan
  2. Program Baru ( New Program )

Tujuan diadakan kerjasama antar lembaga pendidikan adalah untuk menghasilkan jasa pendidikan yang tidak mungkin dihasilkan oleh lembaga pendidikan jika berdiri sendiri ( New Line Of Operation ) Contoh : Universitas Muhammadiyah Tangerang mengadakan kerjasama dengan Universitas yang ada di Australia denagn tujuan mahasiswa yang belajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang memiliki kesempatan dalam beberapa bulan atau semester untuk mengikuti perkuliahan diluar negeri. Mereka juga berhak mendapatkan ijazah ( gelar akademik ) dari Universitas diluar negeri.

  1. Pelayanan Baru ( New Service )

Disamping sarana pelayanan pendidikan yang bersifat fisik, pelayanan baru juga mungkin ditawarkan oleh lembaga pendidikan yang berkerja sama misalnya, lembaga pendidikan bekerjasama dengan perusahaan asuransi, perbankan, dan rumahsakit yang menawarkan jasa pendidikan kepada siswa dan mahasiswanya dengan dilengkapi fasilitas asuransi, kartu ATM , dan kartu kesehatan.

  1. Efesiensi

Alasan mengadakan kerjasama antara lembaga pendidikan, yaitu untuk efesiensi ( terlaksananya proses yang lebih murah dan cepat ).  Contoh dalam lembaga pendidikan membuat program bersama antara beberapa lembaga pendidikan, sebab jika program tersebut disediakan secara sendiri – sendiri oleh masing – masing lembaga pendidikan , biayanya menjadi lebih mahal. Jika disediakan secara bersama – sama biayanya akan lebih murah dan hasilnya akan lebih optimal. Sebagai contoh, sistem informasi manajemen bagi pelayan lembaga pendidikan kepada siswa dan mehasiswa dari mulai entry data awal mahasiswa sampai penyediaan kartu mahasiswa, kartu rencana study, bahkan fasilitas lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa yang bersangkutan .

  1. Hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat

Bentuk kerjasama lain terjadi antara lembaga pendidikan dan masyarakat, baik sebagai penyedia calon siswa atau mahasiswa untuk lembaga pendidikan ataupun sebagai pengguna jasa pendidikan tersebut. Saat ini yang sedang digalakkan, yaitu pendidikan yang berorientasi masyarakat untuk mendukung program manajemen berbabis sekolah atau MBS (School Base Management). Tanpa adanya kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat, untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang bermutu tidak akan tercapai. Oleh karena itu, kerjasama seperti ini harus terus dibina dan dikembangkan. Dalam menjalin kerjasama antara masyarakat dengan lembaga pendidikan harus dibentuk jaringan kerjasama (Networking) misalnya kerja sama dengan orang tua siswa atau mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, badan perwakilan desa/kelurahan, kantor pemerintahan, maupun lembaga bisnis. Kerjasama ini harus saling menguntungkan, artinya dari aktivitas yang dilaksanakan secara bersama-sama masing-masing pihak dapat menikmati kontribusinya setelah sebelumnya membuat kespeakatan bersama.

  1. Outsourcing (Menggunakan jasa lain untuk membantu melalukan aktivitas pendidikan)

Lembaga pendidikan dalam menjalankan aktivitasnya tidak terlepas dari berbagai keterbatasan, baik keterbatasan sumber daya manusia, modal, maupun sarana prasarana. Jika lembaga pendidikan tidak memiliki tenaga ahli untuk memperbaiki atau memelihara peralatan kantor, dapat digunakan perusahaan jasa dibidang pemeliharaan alat-alat kantor seperti computer.

  1. Membangun Citra Lembaga Pendidikan (Image Building)

Masih banyak alas an untuk memutuskan diadakannya kerjasama, baik dengan lembaga pendidikan yang sama maupun lembaga lain yang dapat menunjang kelancaran aktivitas lembaga pendidikan tersebut. Salah satunya adalah bagaimana meningkatkan citra lembaga pendidikan, terutama diera globalisasi. Besar sekali minta masyarakat untuk menjadi pengguna jasa sebuah lembaga pendidikan dikarenakan telah mengimplemntasikan teknologi informasi yang lebih baik. Memahami paradigm seperti ini, lembaga pendidkan yang ingin membangun citra lembaganya lebih baik harus membntuk jaringan kerjasama dengan pihak lain seperti bekerja sama dengan perusahaan e-commerce untuk membuka e-mail atau website. Akibat adanya jaringan kerjasama tersebut, citra lembaga pendidikan semakin baik dan berkembang sesuai tuntutan para pengguna jasa pendidikan dan sejalan dengan peningkatan kinerja lembaga pendidikan berdasarkan kompetensinya.

  1. Operasi Bersama ( Join Operation )

Operasional yang dilakukan sama-sama antar lembaga pendidikan baik antar lembaga pendidikan formal, maupun antara lembaga pendidikan formal dan non formal, yang pada dasarnya dibentuk untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para pengguna jasa. Sebagai contoh lembaga pendidikan bahasa asing bekerja sama dengan sebuha lembaga pendidikan tinggi untuk menjaring para mahasiswa maupun tenaga pengajarnya yang masih belum menguasai keterampilan berbahasa asing. Oleh karena itu, diadakan kursus bahasa oleh lembaga bahasa asing yang dilaksanakan diperguruan tinggi yang bersangkutan.

  1. Aliansi Strategis (Strategy Alliances)

Hal ini merupakan bentuk kerjasama antara beberapa lembaga pendidikan untuk tujuan yang bersifat umum dan jangka panjang. Misalnya aliansi antara lembaga-lembaga pendidikan swasta atau perguruan tinggi swasta untuk jurusan tenaga kependidikan baik sekolah tinggi keguruan maupun fakultas keguruan. Membuat kesepakatan tentang kurikulum untuk lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

  1. II.                Teknologi Informasi Sebagai Aset Utama Lembaga Pendidikan Dalam Jangka Panjang

 

  1. Sumber Daya Manusia

Yang dimaksud sumber daya manusia adalah para staff penanggung jawab perencanaan dan pengembangan teknologi informasi pada sebuha lembaga pendidikan. Dengan demikian, para staff tersebut benar-benar memiliki tanggung jawab terhadap pengoperasian teknologi informasi, memilki kompetensi untuk memecahkan masalah yang dihadapi lembaga pendidikan sehari-hari, dan selalu mencari kesempatan menggunakan teknlogi informasi untuk kemajuan lembaga pendidikan tersebut.

  1. Teknologi

Seluruh infrastruktur teknologi informasi, termasuk perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) dipergunakan secara bersama-sama dalam proses operasional lembaga pendidikan karena merupakan tulang punggung terciptanya system yang terintegrasi, dengan biaya yang relative terjangkau, untuk biaya operasional, pengembangan, maupun biaya pemeliharaan.

  1. Relasi

Yang dimaksud dalam hal ini adalah hubungan teknologi informasi dengan pihak manajemen lembaga pendidikan sebagai pengambil keputusan (decision maker). Menjalin suatu relasi ini berarti membagi resiko dan tanggung jawab. Dalam mewujudkan relasi ini didukung oleh pimpinan tertinggi dari lembaga pendidikan sehingga akan bertanggung jawab pada aplikasi teknlogi informasi yang berorientasi terhadap proses bukan berdasarkan fungsi organisasi.

BAB III

KESIMPULAN

 

Sistem informasi manajemen adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen (perencanaan, penggerakan, pengorganisasian, dan pengendalian) dalam organisasi. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung kembali proses pengambilan keputusan bidang pendidikan.  Data-data tersebut adalah data empiris atau data/fakta sebenarnya yang benar-benar ada dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dalam menghadapi globalisasi, sistem informasi semakin dibutuhkan oleh lembaga pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kelancaran aliran informasi dalam lembaga pendidikan, kontrol kualitas, dan menciptakan aliansi atau kerja sama dengan pihak lain yang dapat meningkatkan nilai lembaga pendidikan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  Fattah, Nanang,DR (2008), Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Universitas Pendidikan Indonesia, Tim Dosen Administrasi Pendidikan (2009), Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta. Rochaety, Eti Dkk (2009), Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara.